Friday, January 18, 2008

masalah atau peluang?

i sent this below email to some people i work with this morning…
and it’s hit me on the subject… "do i consider my self success?" well… i guess for a person who doesn’t really have a target in her life… i will consider my self to be lucky to have such an easy life…

though these couple of months some what difficult for me… because of realizing a couple of things that… i guess not really according to my plan [secara vi orangnya seneng banget planning tapi pas executing suka memble, antara males ato dapet kendala dan mundur… :b…] i supposed those “set backs” have thought me a lot of things… and also from a seminar held on my office yearly meeting last week… a seminar about executing effectively…

that:
- i wouldn’t do things which will not bring good to me
- i would do things which i consider will bring good to me, neither with support from others or not, therefore as i always do, i am independent and i will always be

there are things i want to achieve in my life, most of them a short term or middle term achievement [hehe… bilangnya gak punya target… :b ]…
which i should re-consider the main aim of those achievement…

mungkin gak fair juga klo vi misalnya contoh ngambil gelar profesi A2IK itu adalah untuk kepentingan perusahaan ini… really? heee… kaya’nya gak juga kaaallleee… secara toh gelar itu melekat di nama vi, yang menikmati self promotionnya juga vi sendiri… untuk mendukung pekerjaan vi mungkin iya… untuk perbaikan karir? artinya untuk vi sendiri juga dong… self promotion, self achievement, self success seharusnya akan lebih berarti daripada sekedar pengakuan dari orang lain? dari perusahaan ini? aaaahhhhh… gak penting!

iya bener banget! gak ada yang namanya motivasi yang datang dari luar, motivasi itu harus datang dari diri sendiri… kalopun ada stimulus, tapi stimulus bukan tujuan… dan kalo stimulus dijadikan tujuan… mungkin vi harus mempertanyakan kepada diri sendiri dan mempertanggungjawabkannya kepada diri sendiri, sebenarnya motif vi apa?

jadi… kembali ke pertanyaan apakah vi menganggap diri vi itu sukses? yeah… i have my own consideration, jawabannya adalah i feel lucky enough and i also feel blessed from God :D

dan apakah vi cukup pintar untuk memanfaatkan kesempatan? i guess yes! as yes i always do my best and i always learn something…
tapi mungkin vi belum cukup pintar untuk menciptakan peluang… maybe my next resolution is to brain storming my self to be creative to create opportunity…
good luck girl! you need that a lot!

happy wiken ya semuanyaaaaa…




From: Xxxvia Xxxx [mailto:xxxvia.xxxx@axxxxxxxxxxang.com]
Sent: Friday, January 18, 2008 8:08 AM
To: **********************************************************
Subject: Thanks God it's Friday ^^


“ Kesempatan hanya datang sekali… seberapa pintar kita memanfaatkan kesempatan atau seberapa pintar kita menciptakan peluang? Itulah kunci sukses dalam kehidupan… “

Good Luck!




Masalah atau Peluang?

Baru setengah tahun Feri bekerja di perusahaan retail. Tapi sejak masuk bekerja, sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hatinya, sistem kerja di perusahaan tersebut. Awalnya dia diterima di bagian administrasi pergudangan. Tapi ketika bagian sales kekurangan tenaga karena salah seorang supervisor sakit keras, maka Feri diperbantukan di bagian sales.

Feri tidak keberatan. Tapi ternyata tugasnya sebagai administrasi pergudangan juga tetap berjalan, sehingga kini dia menjabat dua bidang pekerjaan yang sama-sama sibuk. Untung semua berjalan dengan lancar.

Di bulan keempat Feri diminta agar membantu cabang Bogor yang sedang mengalami masalah. Penjualan menurun. Maka Feri dikirim ke sana dan bertugas untuk mengecek segala sesuatu dan memberikan masukan, dan membantu agar segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Dari sistem operasional, hubungan dengan pelanggan, cara kerja di lapangan, sistem administrasi, laporan keuangan, hingga kinerja setiap orang tak luput dari pantauannya. Dua bulan kemudian dia kembali ke Jakarta dan mengerjakan dua bidang pekerjaannya kembali beserta tambahan membantu bagian distribusi.

Pekerjaannya sebenarnya cukup menyenangkan. Tapi, pekerjaan yang berubah-ubah dan lingkup tugas dan pekerjaan yang tidak jelas membuatnya merasa kurang senang. Feri sebenarnya ingin satu pekerjaan yang tetap, tidak berubah-ubah dan dipindahkan ke mana saja, tapi, terpaksa dia menyetujui sistem kerja tersebut, karena dia ingin tetap bekerja.

Ternyata, ganjalan tersebut menganggu kinerjanya sendiri. Dia tidak bisa lagi melihat keuntungan apa yang mungkin didapatnya dari pengalaman kerja semacam ini, tapi dia hanya melihat masalah yang tidak disukainya.

Feri sendiri tidak berdaya. Tiap hari dia semakin tenggelam dalam kebingungan memikirkan pekerjaan dan masa depannya. Dia melihat salah seorang rekannya yang sudah empat tahun, tapi tetap juga pekerjaannya sama dengan Feri. Jadi Feri semakin khawatir kalau-kalau dia juga akan bekerja serabutan selama bertahun-tahun tanpa perubahan.

Perasaan tersebut membuat Feri semakin tertekan. Apalagi dia baru saja resmi berpacaran dengan seorang wanita, Sinta. Kekhawatirannya meningkat dua kali lipat. Dia menjadi semakin khawatir kalau nanti sudah menikah dengan Sinta, lalu dia masih harus berpindah-pindah ke divisi lain atau bahkan ke kota lain, wah jangan-jangan dia tidak setuju.

Feri mulai ketakutan. Bagaimana kalau Sinta menuntutnya untuk tidak pindah-pindah rumah? Bagaimana kalau Sinta tidak bisa menerima kenyataan tersebut? Bagaimana kalau dia nanti jadi uring-uringan tiap hari? Bagaimana kalau begini, kalau begitu, dan seribu satu pertanyaan serta kekuatiran lain menumpuk dalam hati dan pikirannya.

Setelah enam bulan, Feri tidak tahan. Dia akhirnya memutuskan untuk berterus terang dan membicarakan hal tersebut dengan Sinta secara terbuka. Maka Feri mengajak Sinta berdiskusi. Sinta sendiri juga bekerja di bagian ekspor di sebuah perusahaan peralatan kantor.

Ternyata tanggapan Sinta di luar perkiraan Feri. Feri menduga Sinta akan merendahkan Feri, kesal, marah-marah, atau bahkan menyuruhnya keluar dan mencari pekerjaan lain. Tapi Sinta malah mengajaknya melihat masalah tersebut melalui kacamata lain.

Sinta merenung sebentar dan berkata "Jadi, Kak Feri sekarang bertugas di bagian gudang, sales, dan distribusi?"

"Ya!" kata Feri kesal.
"Kak Feri juga berhasil membantu cabang Bogor mengatasi masalahnya dalam dua bulan?", tegas Sinta. Feri hanya mengangguk.
"Kak. Kak Feri sebenarnya beruntung lho," kata Sinta.

Feri terkejut. Selama ini dia tidak pernah menganggap dirinya beruntung. Malah rasanya sial melulu karena terus menerus diberi tugas tambahan. Sampai berat badannya turun dua kilo.

"Tidak Kak. Kak Feri sangat beruntung karena dalam waktu enam bulan, Kak Feri sudah mempelajari berbagai bidang pekerjaan dan berhasil menguasainya. Setahun atau dua tahun lagi, Kak Feri akan semakin pintar dan semakin menguasai berbagai bidang lagi. Wah, Kak. Masa depan Kakak semakin bagus," kata Sinta sambil tersenyum cerah. "Lho kok?," tanya Feri heran.

"Ya. kalau sudah menguasai banyak bidang, karir Kakak akan semakin bagus. Kakak bisa dipromosikan ke mana saja. Jadi jangan disia-siakan Kak. Anggap saja sedang belajar atau sedang magang, tapi digaji penuh. Kan untung? Tidak apa-apa Kak. Saya dukung penuh. Kakak jangan malas. Harus tambah rajin, supaya semakin menguasai pekerjaan Kakak. Nanti Kak Feri jadi semakin hebat deh."

Feri tertegun. Iya, ya. Kok selama ini tak terpikirkan olehnya untuk memandang pekerjaannya dari sisi positif. Betul juga kata Sinta. Dalam waktu enam bulan dia sudah menguasai sistem pergudangan, mengelola sales, mengelola cabang, dan kini sedang mempelajari masalah distribusi. Betul juga. Banyak hal baru yang kini dikuasainya. Bila dia semakin menguasai pekerjaannya, tentu pintu promosi akan terbuka baginya.

Kini dia tidak mau malas lagi. Bahkan dia akan semakin berusaha menyelesaikan semua pekerjaan yang diserahkan kepadanya. Dia mau bekerja sebaik mungkin. Yang penting meningkatkan kemampuan kerjanya. Feri jadi bersemangat lagi. Dia akan terus belajar.

Always do your best! Always learn something!

No comments: